Tren

Bukan Asal Potong, Begini Aturan Kurban Ramah Lingkungan Saat Iduladha

Gambar Ilustrasi AI

Gambar Ilustrasi AI

Yogyakarta, Gradasigo - Iduladha di era modern bukan lagi sekadar soal gema takbir semalam suntuk atau keriuhan antrean kupon daging di halaman masjid. Di balik rutinitas tahunan ini, tersimpan esensi besar yang kini berkelindan dengan tanggung jawab baru, yaitu menjamin keamanan pangan sekaligus menjaga kelestarian bumi.

Ancaman laten seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD) memaksa kita mengubur dalam-dalam prinsip asal potong. Pemerintah pun kini menetapkan standar mati lewat kampanye prinsip ASUH—Aman, Sehat, Utuh, dan Halal. Berburu hewan kurban yang mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) barulah langkah paling dasar.

Sebab, modal hewan sehat bisa jadi sia-sia jika proses eksekusinya berantakan. Di sinilah peran Juru Sembelih Halal (Juleha) menjadi sangat vital. Bukan sekadar jagal musiman, para Juleha modern dilatih untuk menerapkan adab animal welfare demi menjalankan prinsip Ihsan. Caranya? Menenangkan hewan sebelum disembelih, menyembunyikan pisau dari pandangan mereka, hingga menggunakan alat bantu seperti restraining box agar proses pemotongan tiga saluran di leher tuntas dalam satu sayatan cepat tanpa menyiksa.

Transformasi di lapangan juga mulai menyentuh aspek lingkungan guna meredam ledakan sampah plastik konvensional. Melalui gerakan "Kurban Ramah Lingkungan", banyak panitia yang kini mulai beralih menggunakan wadah alami seperti besek bambu atau daun pisang. 

Langkah taktis ini nyatanya punya dampak makro dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Urusan limbah pun tak luput dari sorotan; kebiasaan membuang darah dan jeroan ke sungai yang berisiko menyebarkan penyakit kini mulai digantikan dengan pembuatan lubang khusus higienis untuk diolah menjadi pupuk kompos.

Menariknya, urusan distribusi ke kelompok yang berhak pun kini makin rapi berkat sentuhan teknologi. Selamat tinggal drama antrean panjang yang melelahkan, karena beberapa wilayah kini sukses menerapkan sistem barcode digital untuk menggantikan kupon fisik. Hasilnya jelas: pembagian daging jadi lebih tertib, minim kerumunan, dan tepat sasaran.

Pada akhirnya, ritual tahunan ini membuktikan bahwa adaptasi teknologi dan kepedulian lingkungan bisa berjalan beriringan tanpa mengikis nilai spiritualitas. Karena esensi kurban yang sejati bukan terletak pada limpahan dagingnya, melainkan pada ketulusan niat dan bagaimana kita menjaga tanggung jawab terhadap sesama serta semesta. (AMH)

Related Post