Yogyakarta, Gradasigo - Jika dahulu buah tangan khas Yogyakarta hanya identik dengan bakpia atau gudeg, kini peta kuliner di Kota Pelajar mulai bergeser. Menemukan bika ambon di Yogyakarta sekarang sama mudahnya dengan mencari sekotak bakpia. Meski penganan kuning berongga ini asli Medan , bika ambon sukses bermutasi menjadi identitas buah tangan wajib yang baru di Jogja.
Berikut 3 fakta unik di balik fenomenanya:
Dominasi Larizo, si Penguasa Pasar
Berawal dari gerai sederhana di Jalan Kaliurang pada 1999 , cabangnya kini menggurita hingga ke Solo dan Magelang. Sukses mereka didorong strategi membuka gerai di setiap jalur utama dan taktik low entry point dengan menjual bika ambon per potongan agar ramah di kantong mahasiswa maupun pelancong. Produknya konsisten dengan tekstur sangat basah dan gurih santan.
Lumer vs Autentik
Pasar Jogja membelah penikmat kuliner ke dalam tiga kubu. Kubu Modern (Larizo) unggul dengan tekstur lembut yang langsung lumer di lidah. Kubu Puris (Bika Ambon Aneka di Kotabaru) setia pada tekstur berserat kokoh, kenyal, dan cenderung kering khas tradisional. Sementara Kubu Urban (Rica Rico di Pakuwon Mall) mengincar masyarakat perkotaan dengan keunggulan serat presisi dan aroma pandan kuat.
Jualan Narasi dan Kepercayaan
Konsumen modern tidak cuma membeli rasa, tapi juga legalitas dan cerita. Larizo cerdas memajang sertifikasi Halal dan izin PIRT di setiap gerai sebagai pembangun kepercayaan. Selain itu, narasi proses fermentasi alami selama belasan jam demi mendapat rongga serat yang rapi sukses melonjakkan nilai produk ini menjadi sebuah karya seni.
Fenomena ini akhirnya mengubah bika ambon menjadi mesin penggerak ekonomi Jogja. Mulai dari penyerapan tenaga kerja lokal lewat ekspansi masif, hingga pembuktian keluwesan budaya Jogja dalam mengadopsi kuliner luar melalui standar kualitas dan adaptasi selera. (AMH)

AHMAD MUTAQIN HABIBI