Kuliner

Bukan Sekadar Air Jahe, Inilah Rahasia di Balik Gurihnya Wedang Cemue dan Legenda Ronde

Wedand Ronde dan Cemoy Lek Wid  Gatak Wukirsari Cangkringan

Wedand Ronde dan Cemoy Lek Wid Gatak Wukirsari Cangkringan

SLEMAN, Gradasigo – Ada alasan mengapa aroma jahe dan kepulan uap dari gerobak pinggir jalan selalu terasa lebih menggoda saat senja mulai jatuh atau ketika rintik hujan membasahi aspal. 

Di balik kesederhanaan mangkuk-mangkuk kecil itu, tersimpan sebuah perjalanan panjang yang melintasi samudera, menembus zaman, hingga akhirnya menetap di lidah masyarakat Jawa sebagai "jangkar" memori.

Dua primadona yang sering kita jumpai adalah Wedang Ronde dan saudaranya yang lebih "berani", Wedang Cemue. Namun, tahukah Anda bahwa setiap bulatan ketan dan taburan bawang goreng di dalamnya membawa pesan filosofis yang mendalam?

Kisah ini sebenarnya bermula ribuan tahun lalu di daratan Tiongkok. Masyarakat di sana mengenal Tangyuan, bola ketan kenyal yang wajib hadir dalam festival Dongzhi (titik balik matahari musim dingin). Nama Tangyuan sering diplesetkan menjadi Tuan Yuan, yang berarti reuni atau kebersamaan. Itulah mengapa ronde identik dengan kehangatan keluarga.

Saat para perantau Tionghoa tiba di Nusantara, tradisi ini bersentuhan dengan rempah lokal. Kuah aslinya yang manis diadaptasi dengan sengatan jahe dan legitnya gula jawa. Menariknya, nama "Ronde" sendiri bukan berasal dari bahasa lokal, melainkan serapan dari kata Belanda, rond atau rondje yang berarti bulat. Sebelum istilah kolonial ini populer, orang Jawa menyebutnya Wedang Guyub—sebuah nama yang menegaskan fungsi sosialnya sebagai pemersatu.

Ada fakta sejarah yang unik di sini. Konon, di masa perjuangan, para pembuat ronde sengaja menghindari warna biru untuk menjauhi identitas bendera penjajah. Merah dan putih pun mendominasi, menjadikan kuliner ini sebagai simbol perlawanan sekaligus kemerdekaan yang tersaji secara subtil.

Jika Anda bergeser ke wilayah pesisir Cilacap hingga masuk ke pedalaman Ngawi dan Madiun, profil rasa wedang ini berubah total. Di sinilah muncul Wedang Cemue (atau Cemoy). Berbeda dengan Ronde yang bening dan tajam, Cemue adalah perayaan rasa yang mewah karena penggunaan santan kental yang direbus bersama serai dan pandan.

Keunikan yang sering membuat orang luar daerah mengernyitkan dahi adalah taburan bawang merah goreng di atas kuahnya. "Ini adalah identitas kuliner ndeso yang paling autentik," ungkap para penikmat setianya. Perpaduan manis santan, pedas jahe, dan aroma bawang goreng menciptakan harmoni rasa yang tak terduga. Tambahan potongan roti tawar dan kacang tanah goreng memberikan tekstur yang kaya di setiap sesapan.

Harmoni Tahu Cemoy di Lereng Merapi

Evolusi kuliner ini mencapai puncaknya di Cilacap, di mana Wedang Cemue kerap dijajakan berdampingan dengan Tahu Masak. Saking seringnya dipesan bersamaan, masyarakat mengenalnya dengan sebutan "Tahu Cemoy". Bayangkan lembutnya tahu putih, tauge segar, dan kubis yang disiram gula jawa pedas, lalu "dibilas" dengan hangatnya kuah santan jahe.

Kini, pengalaman rasa yang kompleks ini tak perlu dicari hingga ke pesisir Selatan atau Jawa Timur. Di tengah sejuknya udara Sleman, tepatnya di Wedang Ronde & Cemoy Lek Wiwid, harmoni tersebut hadir. Berlokasi di Jl. Raya Merapi Golf (Cancangan, Wukirsari, Cangkringan), warung ini membawa kehangatan khas pesisir ke kaki Gunung Merapi.

Menikmati semangkuk Cemue di bawah bayang-bayang Merapi bukan lagi sekadar urusan mengisi perut. Ini adalah proses "pulang" menuju akar budaya, menyesap doa-doa leluhur yang masih bertahan di tengah gempuran zaman. Sebuah perjalanan rasa yang membuktikan bahwa kehangatan sejati selalu bermula dari mangkuk yang sederhana. (AMH)

Related Post