JAKARTA, Gradasigo – Di tengah disrupsi kecerdasan buatan (AI) yang menantang dunia kerja, penguatan standar mutu lulusan pendidikan nonformal menjadi prioritas nasional. Menjawab tantangan tersebut, LSK Hipnoterapi Indonesia menegaskan komitmen menjaga integritas sertifikasi dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Forum Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Acara yang berlangsung di Auditorium Ki Hajar Dewantara, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ini menjadi momentum strategis bagi penguatan sistem pendidikan vokasi. Hadir dalam pertemuan tersebut Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Tatang Mutaqin dan Direktur Kursus dan Pelatihan Yaya Sutarya dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Kehadiran mereka mempertegas sinergi antara pemerintah dan LSK untuk mencetak SDM Indonesia yang kompetitif di kancah global.
Dalam forum tersebut, LSK Hipnoterapi Indonesia secara khusus menganugerahkan penghargaan kepada Sydney Panjiagung sebagai Penguji Profesional Hipnoterapi. Apresiasi ini diberikan atas dedikasi tanpa henti Sydney dalam menjaga standar kualitas dan integritas uji kompetensi di bidang tersebut.
Ketua LSK Hipnoterapi Indonesia, Iyep Pepen Saepudin, yang menyerahkan langsung penghargaan tersebut menyatakan bahwa peran penguji adalah instrumen vital dalam ekosistem pendidikan nonformal.
"Penguji adalah kunci dalam memastikan kompetensi lulusan. Integritas dan konsistensi mereka menjadi fondasi utama untuk membangun kepercayaan publik terhadap sistem sertifikasi nasional kita," tegas Iyep Pepen.
Sydney Panjiagung bukan sosok baru dalam dunia hipnosis terapan. Aktif sebagai praktisi dan pengajar sejak 2005, Ketua Dewan Pembina PRAHIPTI ini memiliki andil besar dalam merumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Hipnoterapi yang berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Jenjang 3. Dokumen ini menjadi acuan tunggal bagi pelaksanaan pelatihan dan uji kompetensi di tingkat nasional.
Selain pemberian penghargaan, Rakornas Forum LSK 2026 juga menggelar bincang kompetensi bertajuk "Kompetensi di Era Kecerdasan Tiruan". Diskusi ini menyoroti pentingnya adaptasi teknologi, harmonisasi kebijakan, dan penguatan tata kelola lembaga pendidikan untuk menjamin lulusan mampu bertahan dan bersaing di pasar kerja masa depan yang kian digital. (*)

Muhammad Sidik Kaimuddin Tomsio