Kuliner

Mariyam Fried Chicken Targetkan 100 Cabang di 2026

Mariyam Fried Chicken Jl. Kusumanegara 921A Yogyakarta

Mariyam Fried Chicken Jl. Kusumanegara 921A Yogyakarta

YOGYAKARTA, Gradasigo – Di tengah riuhnya persaingan industri kuliner yang kerap kali terasa sesak dan ambisius, sebuah narasi berbeda justru lahir dari sudut Yogyakarta. Ini bukan cerita tentang upaya saling sikut demi mendominasi pasar, melainkan tentang sebuah filosofi sederhana yang disebut "Membersamai".

Adalah Mariyam Fried Chicken (MFC), jenama lokal yang belakangan ini menjadi buah bibir. MFC hadir bukan untuk menjadi predator bagi merek lain, melainkan memposisikan diri sebagai oase bagi perut sekaligus kantong masyarakat yang kian terhimpit kenaikan harga kebutuhan pokok.

Melepas Citra "Gerobakan"

Perjalanan MFC adalah potret nyata evolusi ekonomi kerakyatan. Jika dahulu identitasnya melekat erat dengan konsep gerobak di pinggir jalan, kini MFC telah memantapkan langkah menuju ruang yang lebih profesional. Keputusan untuk bertransformasi menjadi restoran modern di bangunan ruko permanen bukanlah sekadar mengejar gaya.

Berpusat di Jalan Kusumanegara No.921 A, Banguntapan, MFC kini tampil dengan identitas visual yang segar dan tegas. Dominasi warna oranye yang mencolok di gerai-gerainya—mulai dari Yogyakarta, Pekalongan, hingga Wonosobo menunjukkan bahwa standar profesional bisa berjalan beriringan dengan jiwa lokal yang tetap terjaga.

Melawan Arus Inflasi dengan Paket Rp8.000

Di saat daya beli masyarakat diuji oleh kenaikan harga pangan, MFC justru melakukan langkah berani yang mereka sebut sebagai "Demokratisasi Rasa". Bagaimana mungkin di tahun ini, seseorang masih bisa mendapatkan paket lengkap berupa nasi, ayam bagian sayap, dan segelas es teh manis hanya dengan harga Rp8.000?

Inilah bukti nyata misi mereka, menghadirkan kualitas premium dengan harga rakyat. Rendahnya harga tidak lantas mengkompromikan kualitas. Daging ayam yang tetap tebal, bumbu rempah yang meresap, serta tekstur renyah yang konsisten menjadi alasan mengapa pelanggan terus kembali.

Tak berhenti di ayam goreng krispi biasa, dapur MFC terus mengepulkan inovasi untuk memecah kemonotonan. Kini, menu mereka meluas hingga ke sajian khas Timur Tengah seperti Nasi Kebuli, Shawarma, dan Ayam Saudi. Bahkan, bagi mereka yang mencari variasi harian, tersedia pilihan Steak, Bubur Ayam, hingga kudapan manis seperti Roti Mariyam dan Susu Kurma yang dibanderol di kisaran harga yang sangat terjangkau, yakni Rp8.000 hingga Rp12.000.

Syirkah Berkah, Visi 100 Cabang di 2026

Visi MFC sejatinya melampaui urusan dapur. Melalui payung filosofi "Syirkah Berkah", jenama ini memposisikan diri sebagai ladang mencari rezeki dan pembuka lapangan kerja seluas-luasnya. Mereka percaya bahwa setiap merek memiliki pasarnya sendiri, sehingga fokus utama bukanlah bertanding, melainkan memastikan setiap sudut kota bisa menikmati makanan enak tanpa beban finansial.

Untuk mengakselerasi misi sosial ini, MFC menawarkan sistem franchise autopilot. Konsep ini didesain khusus bagi investor pemula yang ingin memiliki bisnis produktif tanpa harus terjun langsung dalam operasional harian, karena semua dikelola langsung oleh pusat.

Strategi ekspansinya pun terukur dengan matang. MFC menargetkan satu mitra di setiap provinsi untuk berfungsi sebagai central kitchen guna menjaga konsistensi rasa di seluruh jaringan. Ambisinya jelas: menghadirkan 100 cabang pada tahun 2026 agar Mariyam selalu ada di dekat masyarakat Indonesia.

Pada akhirnya, Mariyam Fried Chicken adalah sebuah anomali yang menyejukkan. Ia adalah bukti bahwa kemandirian ekonomi umat bisa dibangun dengan cara-cara yang teduh—menggandeng tangan pelanggan dan mitra menuju kesejahteraan bersama, bukan dengan saling mengalahkan. (AMH)

Related Post