Inspirasi Bisnis

Mariyam's Doonat, Solusi Donat Premium Harga Mahasiswa

Mariyam's Doonat Yogyakarta

Mariyam's Doonat Yogyakarta

Yogyakarta, Gradasigo – Di sudut-sudut jalanan Yogyakarta yang sibuk, sebuah fenomena kuliner baru mulai mencuri perhatian di tahun 2026 ini, namanya Mariyam's Doonat. Di tengah kepungan gerai donat waralaba global dan ekspansi kedai kopi modern, brand lokal ini muncul dengan strategi yang tak biasa, membawa kualitas donat "mal" ke level gerobak pinggir jala

Mariyam's Doonat hadir mengisi celah pasar yang selama ini kosong antara donat pasar tradisional dan donat premium yang harganya kian melambung. Dengan konsep affordable luxury, mereka membuktikan bahwa kualitas tinggi tidak harus selalu ditebus dengan harga mahal.

Berbeda dengan pemain besar yang mengandalkan sewa ruko mahal, Mariyam's Doonat bergerak lewat model micro-store atau gerobak modern. Fleksibilitas ini membuat mereka mampu merangsek masuk ke jantung aktivitas masyarakat, seperti kawasan kos eksklusif hingga area kampus yang tidak terjangkau oleh brand besar.

Meski tampil modern dengan topping Instagrammable seperti Green Tea Cookies dan keju serut yang melimpah, Mariyam's Doonat sebenarnya sedang melanjutkan estafet sejarah panjang.

Perjalanan donat sendiri bermula dari Olykoeks di Belanda pada abad ke-19, bola adonan yang sering kali mentah di tengah sehingga harus diisi kacang, inilah asal mula istilah dough-nut. Lubang ikoniknya baru tercipta pada 1847 oleh Kapten Hanson Gregory agar adonan matang merata saat digoreng di atas kapal.

Di Indonesia, setelah era pelopor seperti American Donut pada 1968 dan revolusi soft-dough J.CO pada 2005, kini tongkat estafet beralih ke tangan pemain lokal. Maryam Donuts tidak hanya menjual kelezatan, tapi membawa misi filosofis untuk terus bergerak dan memberi manfaat bagi sesama.

Kini, dengan balutan visual yang tren dan rasa yang kompetitif, Mariyam's Doonat siap mengukuhkan diri sebagai "King of Street Doughnuts" di Yogyakarta. (AMH)

Related Post