Gaya Hidup

Menjaga Rasa, Merajut Asa: Ikhtiar Kolektif Memajukan Kuliner Indonesia

Apkulindo Sultra

Apkulindo Sultra

YOGYAKARTA, Gradasigo – Industri kuliner Indonesia hari ini tidak lagi sekadar soal urusan dapur dan racikan bumbu rahasia. Di tengah kepungan tren global yang bergerak secepat algoritma media sosial, para pengusaha makanan dan minuman kini berdiri di persimpangan jalan: beradaptasi dengan standar modern atau perlahan tertelan zaman. 

Rasa enak dan lokasi strategis memang kunci, namun tanpa ekosistem digital yang kuat serta pondasi legalitas yang jelas, sebuah bisnis kuliner bisa kehilangan tajinya.

Kesadaran akan urgensi inilah yang kini tengah dipupuk oleh Perkumpulan Pengusaha Kuliner Kreatif Indonesia (Apkulindo). Dari bentang alam Bumi Anoa di Sulawesi Tenggara hingga sudut-sudut syahdu Daerah Istimewa Yogyakarta, sebuah gerakan kolektif sedang dirajut untuk memastikan pelaku UMKM tidak berjalan sendirian.

Langkah nyata transformasi ini tecermin dari dinamika di Sulawesi Tenggara (Sultra). Pelantikan Rahman Rahim sebagai Ketua Umum PW Apkulindo Sultra periode 2025–2028 di Kendari, Oktober lalu, menjadi titik balik penting. 

Di bawah kepemimpinannya, ada ambisi besar untuk membawa UMKM lokal menembus pasar nasional melalui penguatan sertifikasi.

Ketua Umum Apkulindo Pusat, Masbukhin Pradhana, menekankan bahwa organisasi ini hadir bukan sekadar sebagai wadah kumpul-kumpul. "Kami ingin membangun jejaring di mana pengusaha bisa saling membesarkan secara kolektif," ujarnya.

Targetnya tidak main-main, 1.000 anggota baru di tahun 2025 dengan agenda roadshow di 17 kabupaten/kota. Dukungan dari tokoh nasional seperti Sandiaga Uno di jajaran Dewan Kehormatan semakin mempertegas posisi Apkulindo sebagai mitra strategis pemerintah dalam memacu ekonomi kreatif.

Berdiri sejak 2017, Apkulindo telah menyaksikan betapa ganasnya pergeseran pasar di era 4.0. Penjualan konvensional kini wajib bersanding manis dengan strategi daring. Penguasaan teknologi seperti Google Business, Instagram, hingga efektivitas TikTok Ads kini menjadi instrumen wajib bagi siapa pun yang ingin usahanya tetap relevan.

Bagi ribuan UKM binaan yang tersebar dari Jawa Timur hingga DIY, tantangan ini dijawab dengan pendampingan intensif. Tujuannya satu: memastikan produk lokal memiliki daya saing yang setara dengan pemain besar di pasar yang kian kompetitif.

Semangat yang dimulai dari Kendari itu menemukan muara praktisnya di Yogyakarta. Pada Minggu (15/03), PW Apkulindo Yogyakarta menggelar pertemuan yang melampaui sekadar agenda formal. Bertajuk Sharing Session di Tanza Ramen, Bantul, acara ini menjadi ajang "buka kartu" antar pengusaha kuliner di DIY.

Menariknya, pertemuan ini tidak hanya bicara soal omzet. Kehadiran tim pendamping proses produk halal dan penyelia halal DIY menjadi bukti bahwa organisasi ini memberikan solusi nyata di lapangan. 

Di sinilah "nyawa" organisasi terasa; mereka memberikan pengawalan intensif bagi UMKM untuk mengurus sertifikasi halal dan NIB—dua hal yang sering dianggap sebagai beban administratif, padahal merupakan investasi keamanan bisnis jangka panjang.

Menghadapi masa depan, satu pesan yang konsisten digaungkan adalah pentingnya integritas. Teknologi mungkin bisa mempercepat pesanan, namun kepercayaan (trust) antar pelaku usaha adalah bumbu paling mahal yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan manapun.

Sebuah pepatah Italia yang populer di kalangan pecinta kuliner berbunyi: "A tavola non si invecchia"—di meja makan, kita tidak akan pernah menua. Selama para pengusaha kuliner masih mau duduk bersama, berbagi ilmu, dan saling menguatkan, maka harapan untuk masa depan kuliner Indonesia akan tetap segar, muda, dan penuh optimisme.

Legalitas dijaga, teknologi diadopsi, namun silaturahmi tetap menjadi jantung yang menggerakkan segalanya. (AMH)

Related Post