Jakarta, gradasigo - Di tengah upaya pemulihan ekonomi kawasan yang kian progresif, para Menteri Pariwisata se-ASEAN bersama India kembali duduk di satu meja dalam pertemuan ke-13 yang berlangsung di Vientiane, Laos.
Pertemuan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah langkah krusial untuk mengunci komitmen bersama dalam mempercepat pertumbuhan sektor pariwisata yang lebih hijau, inklusif, dan resilien bagi kedua wilayah.
Urgensi pertemuan ini berangkat dari angka pertumbuhan wisatawan yang signifikan namun memerlukan fondasi kebijakan yang lebih kokoh agar dampak ekonominya dapat dirasakan secara merata.
Fokus utama dalam diskusi ini tertuju pada implementasi ASEAN-India Tourism Work Plan 2023-2027. Para menteri menekankan bahwa pariwisata masa depan tidak lagi hanya soal angka kunjungan, melainkan kualitas pengalaman dan keberlanjutan lingkungan.
Beberapa poin strategis yang menjadi prioritas dalam kesepakatan ini antara lain:
- Akselerasi Digitalisasi: Memanfaatkan teknologi untuk menyederhanakan akses informasi dan mobilitas wisatawan antarnegara.
- Pengembangan SDM: Peningkatan standar kompetensi profesional pariwisata guna memenuhi tuntutan pasar global yang kian dinamis.
- Pariwisata Berkelanjutan: Mendorong praktik eco-tourism sebagai pilar utama daya saing kawasan.
Pertemuan ini juga menyoroti peran strategis India sebagai salah satu pasar sumber wisatawan terbesar bagi ASEAN.
Dengan konektivitas udara yang terus diperluas, kedua belah pihak optimistis bahwa target pemulihan sektor pariwisata pasca pandemi akan tercapai lebih cepat dari proyeksi awal.
Selain isu teknis, para delegasi juga berbagi pandangan mengenai pentingnya diversifikasi produk pariwisata.
Bukan lagi sekadar wisata belanja atau kuliner, namun mulai merambah ke wisata kesehatan (wellness tourism) dan wisata religi yang memiliki akar sejarah kuat antara India dan negara-negara di Asia Tenggara.
Sebagai tindak lanjut, seluruh negara anggota berkomitmen untuk mempererat koordinasi dalam promosi bersama dan pertukaran informasi kebijakan.
Upaya ini diharapkan dapat menciptakan koridor perjalanan yang lebih mulus, sekaligus memberikan perlindungan maksimal bagi wisatawan yang berkunjung. (*)
Sumber : Kementerian Pariwisata RI

Nur Alfi Khabibah