Kuliner

Tanza Ramen Pleret: Menikmati Evolusi Mi Jepang dalam Semangkuk Kaldu Lokal yang Hits

Tanza Ramen Pleret. Foto: Istimewa

Tanza Ramen Pleret. Foto: Istimewa

BANTUL, Gradasigo — Jika Anda melintasi kawasan Banjardadap, Potorono, ada sebuah pemandangan yang belakangan ini kerap mencuri perhatian. Sebuah kedai kecil namun penuh energi bernama Tanza Ramen tengah menjadi buah bibir di kalangan pemburu kuliner Yogyakarta. Sejak resmi menyapa publik pada Februari 2026, kedai ini berhasil membuktikan bahwa ramen bukan sekadar tren musiman, melainkan sebuah narasi panjang yang kini "mendarat" dengan apik di tanah Pleret, Bantul.

Ramen sering kali dianggap sebagai identitas murni Jepang, padahal akarnya tertanam jauh di Tiongkok. Pada rentang abad ke-17 hingga ke-19, mi gandum ini diperkenalkan di Jepang sebagai Shina Soba. Rahasia tekstur kenyalnya yang ikonik terletak pada penggunaan kansui atau air alkali.

Transformasi menjadi ramen modern baru terjadi pada 1910 melalui kedai legendaris Rai-Rai Ken di Tokyo yang menyesuaikan kaldu dengan lidah lokal. Pasca-Perang Dunia II, posisinya makin kokoh sebagai "makanan rakyat" karena harganya yang terjangkau dan mengenyangkan. Ledakan globalnya barulah terjadi di tahun 1958, berkat inovasi mie instan pertama oleh Momofuku Ando yang membawa aroma ramen ke dapur-dapur di seluruh dunia.

Di Indonesia, perjalanan ramen bermula secara eksklusif bagi ekspatriat di kawasan Blok M sekitar era 80-an. Namun, bagi generasi muda hari ini, perkenalan pertama mereka kemungkinan besar terjadi di depan layar televisi. Ikonografi kedai Ichiraku Ramen dalam serial anime Naruto memicu rasa penasaran masif pada dekade 2000-an.

Kini, kita berada di era lokalisasi. Ramen tidak lagi harus identik dengan bahan non-halal. Inovasi kaldu tulang ayam (Tori Paitan), sapi, hingga ikan membuat kuliner ini bisa dinikmati secara inklusif. Bahkan, beberapa kedai menambahkan tingkat kepedasan ekstrem untuk memanjakan lidah masyarakat lokal yang gemar tantangan.

Di tengah menjamurnya pilihan ramen di Jogja, Tanza Ramen memilih strategi yang unik namun krusial: fokus. Alih-alih menyajikan puluhan menu yang membingungkan, Chef Ardiharjanto memilih untuk mengasah "The Power Duo"—Kuah Tori yang gurih kental dan Kuah Curry yang kaya rempah.

"Fokus ini kami ambil untuk menjaga stabilitas operasional dan memastikan setiap mangkuk memiliki kualitas rasa yang konsisten," ungkap manajemen terkait transisi menu Shoyu dan Miso yang akan menyusul kemudian.

Merespons antusiasme pelanggan yang membeludak, saat ini Tanza tengah memperluas area belakang kedai untuk menciptakan ruang kumpul yang lebih nyaman. Langkah ini terasa sangat tepat momentumnya menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H.

Bagi Anda yang merencanakan agenda buka bersama (bukber), Tanza Ramen menyiapkan kejutan menarik. Selama Ramadhan 1447 H, setiap pembelian menu ramen khusus dine-in akan mendapatkan free ice cream. Perpaduan suhu ramen yang panas-gurih dengan sensasi dingin es krim dianggap sebagai cara menutup hari yang sempurna setelah berpuasa.

Jika Anda tertarik merasakan sensasi sejarah panjang ramen dalam satu suapan, kedai ini berlokasi di Jl. Pleret, Banjardadap, Potorono, Banguntapan, Bantul. Sebuah titik temu di mana teknik autentik bertemu dengan kehangatan lokal Yogyakarta. (AMH)

Related Post