Pangkalpinang, gradasigo - Gedung Graha Sasana Kasih ISB Atma Luhur di Pangkalpinang bukan lagi sekadar ruang akademik biasa. Di awal Februari 2026 ini, atmosfer di sana terasa lebih menyerupai pusat komando strategi pendidikan non-formal.
Kehadiran Dr. Yaya Sutarya, M.Pd., Direktur Kursus dan Pelatihan Kemendikdasmen RI, untuk kedua kalinya dalam kurun waktu dua bulan, mengirimkan sinyal kuat, Pangkalpinang telah bertransformasi menjadi "pangkalan penguatan" bagi standardisasi kompetensi digital Indonesia.
Kunjungan beruntun ini bukan sekadar seremonial, melainkan penegasan bahwa titik temu antara kebijakan pusat dan implementasi lokal kini berpusat di pulau penghasil timah ini.
Gelar Non-Akademik dan Ekosistem MikroKredensial
Langkah masif ini bergayung sambut dengan lahirnya Permendikdasmen No. 24 Tahun 2025, yang memberikan legalitas formal bagi lembaga kursus dalam struktur pendidikan nasional. Di bawah arahan LSK-TIK, sertifikasi CLCP (Computer Literate Certified Professional) kini tidak lagi dipandang sebagai pelengkap administratif.
Melalui konsensus strategis dengan APTIKOM (Asosiasi Profesi TIK), CLCP telah diposisikan sebagai gelar non-akademik resmi dan frase kunci wajib dalam persyaratan lowongan kerja modern.
Implementasi ini kian solid dengan pengakuan skema MikroKredensial sebagai bagian dari Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Bagi mahasiswa, sertifikasi ini menjadi bobot riil pada Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).
Menariknya, kepercayaan terhadap ekosistem ini telah melampaui batas mahasiswa, institusi besar seperti IAIN SAS Babel dan Universitas Bangka Belitung (UBB) mulai menerjunkan para dosen mereka untuk mengikuti uji kompetensi di TUK-TIK Atma Luhur.
Hal ini membuktikan bahwa penguatan kompetensi bukan hanya agenda bagi para lulusan, melainkan standarisasi bagi seluruh ekosistem akademik.
Inovasi QuickScoring AI
Sorotan utama dalam gebrakan awal tahun ini adalah kolaborasi antara LSK-TIK dengan PT Solusi Penjual Pinter (DataPinter). Di bawah pimpinan Marcel Christianis, kemitraan ini melahirkan teknologi QuickScoring berbasis AI.
Sistem ini dirancang bukan sekadar untuk menilai kecakapan teknis (skill), melainkan melakukan "uji nyali" melalui pemantauan perilaku peserta selama ujian untuk memetakan attitude atau sikap kerja secara objektif.
Pengembangan algoritma mutakhir ini melibatkan kontribusi intelektual langsung dari empat mahasiswa magang ISB Atma Luhur—Athaya Dzaky, Hafiz Alfarizi, Han Lie, dan Jordi Venzen.
Keterlibatan mereka dalam merancang kecerdasan buatan ini menjadi representasi nyata bagaimana inovasi lokal mampu menjadi "timah panas" yang mematri kualitas generasi muda dengan standar industri global. Hasil penilaian AI ini memberikan gambaran komprehensif yang tidak bisa ditangkap oleh metode penilaian konvensional.
Standar TATO dan SISKOMTIK
Di tengah penetrasi AI, aspek integritas tetap menjadi pilar utama melalui aplikasi SISKOMTIK (Sistem Komputerisasi Ujian TIK).
Sebagai instrumen pengendali, SISKOMTIK menerapkan protokol anti-cheating yang ketat. Selama 360 menit (6 jam) durasi ujian, peserta "dikunci" dalam ekosistem digital yang menuntut konsentrasi penuh dan kejujuran mutlak, didukung oleh sistem timer countdown yang disiplin.
Mekanisme ini merupakan manifestasi dari standar penilaian TATO (Terbuka, Adil, Terukur, Obyektif). Dengan SISKOMTIK, setiap detik proses ujian terpantau transparan, memastikan bahwa sertifikat yang diterbitkan benar-benar merepresentasikan kemampuan murni peserta tanpa intervensi kecurangan.
Apresiasi Jaringan Nasional dan Spirit TechnoPrenuer
Keberhasilan transformasi di Pangkalpinang ini juga menjadi ajang apresiasi bagi jaringan TUK-TIK nasional. Sebagai pengakuan atas dedikasi dan integritas sepanjang tahun 2025, diberikan piagam penghargaan dan uang pembinaan sebesar 7,5 juta rupiah kepada para pengelola terbaik:
- TUK-TIK Atma Luhur (Representasi Sumatera/Bangka Belitung)
- TUK-TIK Solocom (Representasi Jawa)
- TUK-TIK BEC Mempawah (Representasi Kalimantan)
- TUK-TIK Prima Komputer (Representasi Sulawesi/Timur)
Paralel dengan aspek pengujian, visi mencetak "Gen Z TechnoPrenuer" turut diperkuat. Marcel Christianis dalam kuliah umumnya memperkenalkan produk digital seperti DataPinter—alat riset pasar internasional untuk menentukan kelayakan produk—serta jasa isi kuesioner berbasis AI. Inovasi ini memberikan perangkat praktis bagi mahasiswa untuk memulai usaha digital dengan landasan data yang presisi, bukan sekadar spekulasi.
Menatap Masa Depan Digital 2026
Momentum puncak ditandai dengan penekanan tombol aplikasi SISKOMTIK oleh Direktur Kursus dan Pelatihan, yang secara resmi membuka ujian skema MikroKredensial bagi 50 peserta pertama.
Langkah simbolis ini mengunci komitmen bahwa tahun 2026 diawali dengan standar baru yang lebih tinggi.
Sebagaimana bait pantun yang menggema di awal acara, teknologi kini benar-benar menjadi alat untuk mewujudkan cita-cita anak bangsa.
Pangkalpinang telah membuktikan perannya bukan sekadar pangkalan fisik di pulau penghasil timah, melainkan pusat penguatan kompetensi digital nasional.
Di sini, integritas dan teknologi AI berpadu, memastikan bahwa masa depan digital Indonesia berdiri di atas landasan yang kokoh, terukur, dan berdaya saing global. (janis/oni)

Muhammad Sidik Kaimuddin Tomsio